Kronologi Penulisan TIPITAKA (ringkasan) Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga
bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya).
SIDANG AGUNG I
(KONSILI I)
- Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung
selama 2 bulan.
- Dipimpin oleh YA.Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang
Bhikkhu yang semuanya Arahat.
- Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha.
- Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu.
- Tujuan Sidang:
- Menghimpun
Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang
berlainan dan dalam waktu yang berlainan.
- Mengulang Dhamma dan Vinaya agar
Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali
mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.
- Kesimpulan/Hasil Konsili I:
- Sangha tidak akan menetapkan hal-hal mana yang perlu dihapus dan hal-hal mana
yang harus dilaksanakan, juga tidak akan menambah apa-apa yang telah ada.
- Mengadili Y.A. Ananda
- Mengucilkan Chana
- Agama Buddha masih utuh.
SIDANG
AGUNG II (KONSILI II)
- Diadakan pada tahun 443 SM (100 tahun sesudah yang I),
berlangsung selama 4 bulan.
- Dipimpin oleh YA. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa
serta dihadiri oleh 700 Bhikkhu.
- Sidang diadakan di Vesali.
- Sponsor sidang agung
ini adalah Raja Kalasoka.
Tujuan Sidang: ·
- Sekelompok Bhikkhu Sangha
(Mahasanghika) menghendaki untuk memperlunak Vinaya yang sangat keras (tetapi
gagal).
- Kesimpulan/Hasil Konsili II:
- Kesalahan-kesalahan Bhikkhu-Bhikkhu dari
suku Vajjis yang melangggar pacittiya dibicarakan, diakui bahwa mereka telah
melanggar Vinaya dan 700 Bhikkhu yang hadir menyatakan setuju.
- Pengulangan
Vinaya dan Dhamma, yang dikenal dengan nama "Satta Sati" atau "Yasathera
Sanghiti" karena Bhikkhu Yasa dianggap berjasa dalam bidang pemurnian Vinaya.
SIDANG AGUNG III (KONSILI III)
- Diadakan pada tahun +/- 313 SM (230 tahun setelah
sidang I).
- Dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta. Sidang diadakan di
Pataliputta.
- Sponsor Sidang Agung ini adalah Raja Asoka dari Suku Mauriya.
- Tujuan Sidang:
- Menertibkan perbedaan pendapat yang mengaktifkan perpecahan
Sangha.
- Memeriksa dan menyempurnakan Kitab Suci Pali (memurnikan Ajaran Sang
Buddha).
- Raja Asoka meminta agar para Bhikkhu mengadakan upacara Uposatha
setiap bulan, agar Bhikkhu Sangha bersih dari oknum-oknum yang bermaksud tidak
baik.
- Kesimpulan / Hasil Konsili III:
- Menghukum Bhikkhu-Bhikkhu selebor/teledor
- Ajaran Abhidhamma diulang tersendiri oleh Y.A. Maha Kassapa, sehingga lengkaplah
pengertian Tipitaka (Vinaya,Sutta, dan Abhidhamma). Jadi pengertian Tipitaka
mulai lengkap (timbul) pada Konsili III.
- Y.A. Tissa memilih 10.000 orang
Bhikkhu Sangha yang benar-benar telah memahami Ajaran Sang Buddha untuk
menghimpun Ajaran tersebut menjadi Tipitaka dan perhimpunan tersebut berlangsung
selama 9 bulan.
- Pada saat itu Sangha sudah terpecah dua, yaitu :
Theravãda (Sthaviravada) dan Mahasanghika.
- Sementara itu ada ahli sejarah yang
mengatakan bahwa pada Konsili III ini bukan merupakan konsili umum, tetapi hanya
merupakan suatu konsili yang diadakan oleh Sthaviravada.
SIDANG AGUNG IV
(KONSILI IV)
- Diadakan pada masa pemerintahan Raja Vattagamani Abhaya (tahun 101
- 77 SM).
- Dipimpin oleh Y.A. Rakhita Mahathera dan dihadiri oleh +/- 500
Bhikkhu.
- Sidang diadakan di Alu Vihara (Aloka Vihara) di Desa Matale.
- Tujuan
Sidang: ·
- Mencari penyelesaian karena melihat terjadinya kemungkinan-kemungkinan
yang mengancam Ajaran-ajaran dan kebudayaan-kebudayaan Agama Buddha oleh
pihak-pihak lain.
- Kesimpulan / Hasil Konsili IV: ·
- Mengulang Tipitaka. ·
- Menyempurnakan komentar Tipitaka. ·
- Menuliskan Tipitaka dan komentarnya di atas
daun lontar.
- Keterangan: · Konsili ini diakui sebagai konsili yang ke IV oleh
sekte Theravãda.
SEJARAH TIPITAKA (uraian)
Beberapa minggu setelah Sang Buddha
wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata
: "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas
dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk
dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang
kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak
kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar
kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.
Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua
Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah
dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda,
siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali
kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upali mengulang Vinaya
(peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh
ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang
mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali)
disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang
terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi
dirimu". Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu
generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu
yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang
ingin mempertahankan Dhamma - Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha
Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di
Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang
Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini
menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok
Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak
berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama
wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravãda dan Mahayana.
Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah
Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana.
Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu
penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan
(penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan
ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan
ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari
penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke
negeri-negeri lain. Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang
kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik
tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan
terhindar lenyap dari bumi asalnya. Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara
(Srilanka) di bawah lindungan Raja Vattagamani Abhaya pada permulaan abad keenam
sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka
(Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua
orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya. Selanjutnya Pesamuan Agung Kelima
diadakan di Mandalay (Burma) pada permulaan abad 25 sesudah Sang Buddha wafat
(1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting pada waktu itu adalah Kitab
Suci Titpitaka (Pali) diprasastikan pada 727 buah lempengan marmer (batu pualam)
dan diletakkan di bukit Mandalay. Persamuan Agung keenam diadakan di Rangoon
pada hari Visakha Puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500
(tahun Masehi 1956). Sejak saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pali)
dilakukan ke dalam beberapa bahasa Barat. Sebagai tambahan pengetahuan dapat
dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan
mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravãda. Bertitik
tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan
kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati
adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan
sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali). Dengan
demikian, Agama Buddha mazhab Theravãda dalam pertumbuhannya sejak pertama
sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan
pembabaran Dhamma - Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga
dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravãda di
Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara
lain. Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah
menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka,
Theravãda dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah
lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran
para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab
Theravãda inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand,
dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.
SKEMA TIPITAKA
URAIAN SINGKAT TIPITAKA
Berikut ini akan diuraikan secara singkat bagian-bagian
dari Kitab Suci Tipitaka Pali.
VINAYA PITAKA
Vinaya Pitaka berisi hal-hal yang
berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni yang
terdiri atas 3 bagian:
1. Sutta Vibhanga Kitab Sutta Vibhanga berisi
peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni, terdiri dari:
- o Bhikkhu
Vibhanga: berisi 227 peraturan yang mencakup 8 jenis pelanggaran, diantaranya
terdapat 4 pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang Bhikkhu dari
Sangha dan tidak dapat menjadi Bhikkhu lagi seumur hidup.
Keempat pelanggaran
itu, adalah : berhubungan kelamin; mencuri; membunuh atau menganjurkan orang
lain bunuh diri; membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat
kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. Untuk ketujuh
jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai
dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan.
- o Bhikkhuni Vibhanga :
berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya
lebih banyak.
2.
Khandhaka Kitab Khandhaka terbagi atas Mahavagga dan Culavagga.
- berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara
pentahbisan Bhikkhu; upacara uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru
dimana dibacakan Patimokha (peraturan disiplin bagi para Bhikkhu);
- peraturan
tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa);
- upacara pada akhir vassa
(pavarana);
- peraturan-peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan
makanan;
- pemberian jubah Kathina setiap tahun;
- peraturan-peraturan bagi para
Bhikkhu yang sakit;
- peraturan tentang tidur; peraturan tentang bahan jubah;
- tata
cara melaksanakan Sanghakamma (upacara Sangha); dan
- tata cara dalam hal terjadi
perpecahan.
- berisi peraturan-peraturan untuk menangani
pelanggaran-pelanggaran; tata cara penerimaan kembali seorang Bhikkhu ke dalam
Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya;
- tata cara untuk
menangani masalah-masalah yang timbul;
- berbagai peraturan yang mengatur cara
mandi, pengenaan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam
dan sebagainya;
- mengenai perpecahan kelompok-kelompok Bhikkhu;
kewajiban-kewajiban guru (acariya) dan calon Bhikkhu (samanera);
- pengucilan dari
upacara pembacaan Patimokkha; pentahbisan dan bimbingan bagi Bhikkhuni;
- kisah
mengenai Pasamuan Agung Pertama di Rajagaha; dan kisah mengenai Pasamuan Agung
Kedua di Vesali.
3. Parivara Kitab Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan
peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk
dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.
SUTTA PITAKA
Sutta Pitaka terdiri atas
5 kumpulan (nikaya) atau buku, yaitu:
1. Digha Nikaya
Merupakan buku pertama
dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang dan terbagi menjadi 3 vagga
(Silakkhandhagga, Mahavagga, Patikavagga). Beberapa di antara Sutta-sutta yang
terkenal adalah:
- o Bramajala Sutta: "Jala para Brahma" Sang Buddha bersabda
bahwa Beliau mendapat penghormatan bukan semata-mata karena kesusilaan,
melainkan karena kebijaksanaan yang mendalam yang beliau temukan dan nyatakan.
Beliau memberikan sebuah daftar berisi 62 bentuk spekulasi mengenai dunia dan
pribadi dari guru-guru lain.
- o Samannaphala Sutta: "Pahala yang dimiliki oleh
tiap pertapa". Kepada Ajatasattu yang berkunjung pada Sang Buddha, Beliau
menerangkan keuntungan menjadi seorang Bhikkhu, dari tingkat terendah sampai
tingkat Arahat.
- o Ambattha Sutta: Percakapan antara Sang Buddha dengan Ambattha
mengenai kasta, yang sebagian memuat cerita tentang raja Okkaka, leluhur Sang
Buddha.
- o Kutadanta Sutta: Percakapan dengan Brahmana Kutadanta tentang
ketidaksetujuan terhadap penyembelihan binatang untuk sajian.
- o Mahali Sutta:
Percakapan dengan Mahali mengenai penglihatan gaib. Yang lebih tinggi dari pada
ini adalah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna.
- o Kassapasihanada Sutta:
Percakapan dengan seorang pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya
menyiksa diri.
- o Tevijja Sutta: tentang ketidakbenaran pelajaran ketiga Veda
untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa Brahma.
- o Mahapadana Sutta: Penjelasan
Sang Buddha mengenai 6 orang Buddha yang sebelumnya dan beliau sendiri, mengenai
masa-masa mereka muncul, kasta, susunan keluarga, jangka kehidupan, pohon bodhi,
siswa-siswa utama, jumlah pertemuan, pengikut, ayah, ibu dan kota dengan sebuah
khotbah kedua mengenai Vipassi dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat
permulaan memberi pelajaran.
- o Mahanidana Sutta: mengenai rantai sebab musabab
yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa.
- o Mahaparinibbana Sutta: cerita
tentang hati-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha, serta pembagian
relik-relik.
- o Sakkapanha Sutta: Dewa Sakka mengunjungi Sang Buddha, menanyakan
10 persoalan dan mempelajari kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan
berakhir dengan kemusnahan.
- o Maha Satipatthana Sutta: Khotbah mengenai 4 macam
meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma) disertai
penjelasan mengenai 4 Kesunyataan.
- o Payasi Sutta: Kumarakassapa menyadarkan
Payasi dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya atau akibat dari
perbuatan. Setelah Payasi mangkat, Bhikkhu Gavampati menemuinya di surga dan
melihat keadaannya.
- o Pitika Sutta: cerita mengenai seorang siswa yang mengikuti
guru lain, karena Sang Buddha tidak menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal
mula banda-benda. Selama percakapan, Sang Buddha menerangkan kedua hal tersebut.
- o Cakkavattisihanada Sutta: cerita tentang raja dunia dengan berbagai tingkat
penyelewengan moral dan pemulihannya serta tentang Buddha Metteyya yang akan
datang.
- o Aganna Sutta: perbincangan mengenai kasta dengan penjelasan mengenai
asal mula benda-benda, asal mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya.
- o
Sampasadaniya Sutta: percakapan antara Sang Buddha dengan Sariputta yang
menyatakan keyakinannya kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Sang Buddha.
Sang Buddha berpesan untuk kerap kali mengulangi pelajaran ini kepada para
siswa.
- o Lakkhana Sutta: Penjelasan mengenai 32 tanda "Orang Besar" (Raja alam
semesta atau seorang Buddha), yang dijalin dengan syair berisi 20 bagian; tiap
bagian dimulai dengan "Disini dikatakan".
- o Sigalovada Sutta: Sang Buddha
menemukan Sigala sedang memuja enam arah. Beliau menguraikan kewajiban seorang
umat dengan menjelaskan bahwa pemujaan itu adalah menunaikan kewajiban terhadap
enam kelompok orang (orang tua, guru, sahabat dan lain-lain).
2. Majjhima Nikaya Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat khotbah-khotbah menengah.
Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannasa); dua pannasa pertama terdiri atas 50
sutta dan pannasa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152
sutta. Beberapa sutta diantaranya adalah :
- o Mulapariyaya Sutta: pelajaran
mengenai akar segala benda mulai dari unsur-unsur sampai Nibbana.
- o Satipatthana
Sutta: sama dengan di Digha Nikaya, tetapi tanpa ulasan mengenai 4 Kesunyataan.
- o Kakacupama Sutta: "Tamsil Gergaji". Perihal tidak marah jika dihina. Seorang
Bhikkhu yang marah seandainya anggota badannya digergaji satu demi satu bukanlah
siswa Sang Buddha.
- o Alagaddupama Sutta : "Tamsil seekor ular air". Seorang
Bhikkhu dimarahi karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran.
Mempelajari Dhamma secara tidak benar bagaikan manangkap seekor ular pada
ekornya.
- o Cula Saccaka Sutta : diskusi umum antara Sang Buddha dan seorang Jain
Saccaka mengenai lima khandha seseorang.
- o Maha Saccaka Sutta : mengenai
perenungan atas nama dan rupa, dengan penjelasan oleh Sang Buddha tentang ia
meninggalkan keduniawian, pengendalian nafsu dan penerangan sempurna.
- o
Seleyyaka Sutta : khotbah kepada para Brahmana dari Sala mengenai sebab-sebab
mengapa makhluk ada yang memasuki surga dan ada yang menuju neraka.
- o Vedalla
Sutta (Maha dan Cula) : 2 khotbah dalam bentuk komentar atas istilah-istilah
kejiwaan. Yang pertama oleh Sariputta kepada Mahakotthita dan yang kedua oleh
Bhikkhuni Dhammadinna kepada upasaka Visakha.
- o Brahmanimantanika Sutta : Sang
Buddha menceritakan kepada para Bhikkhu bagaimana Beliau pergi ke surga Brahma
untuk memberi pelajaran kepada Baka, yakni salah satu penghuni surga, tentang
ketidakbenaran pendapat tentang kekekalan.
- o Maratajjaniya Sutta: cerita tentang
Mara yang menyelusup dalam perut Moggallana. Moggallana memerintahkan keluar dan
memberikan pelajaran dengan mengingatkannya akan suatu masa ketika Moggallana
sendiri terlahir sebagai Mara bernama Dusi dan Mara adalah kemenakannya.
- o
Kandaraka Sutta: percakapan dengan Pessa dan Kandaraka dan khotbah tentang empat
jenis orang.
- o Jivaka Sutta: Jivaka mengajukan pertanyaan apakah benar Sang
Buddha menyetujui pembunuhan dan memakan daging. Sang Buddha menunjukkan dengan
contoh bahwa itu tidak benar dan bahwa seorang bhikkhu makan daging hanya jika
ia tidak melihat, mendengar dan menduga bahwa daging itu khusus dibuat untuknya.
- o Upali Sutta: cerita tentang Upali yang diutus oleh pemimpin Jaina Nataputta
untuk berdebat dengan Sang Buddha, tetapi akhirnya menjadi pengikut.
- o
Kukkuravatika Sutta: percakapan mengenai kamma antara Sang Buddha dengan dua
orang pertapa, yang satu diantara mereka hidup seperti anjing dan satu lagi
seprti lembu.
- o Abhayarajakumara Sutta: Pangeran Abhaya diutus oleh seorang Jain
Nataputta untuk membantah Sang Buddha dengan megajukan pertanyaan berganda
tentang kutukan hebat yang diterima oleh Devadatta.
- o Bahuvedaniya Sutta:
mengenai penggolongan perasaan-perasaan dan perasaan tertinggi.
- o Maha
Rahulovada Sutta: nasehat kepada Rahula tentang pemusatan pikiran dengan jalan
menarik dan mengeluarkan napas serta memusatkan pikiran kepada unsur-unsur.
- o
Ratthapala Sutta: cerita mengenai Ratthapala yang kedua orang tuanya tidak
menyetujui ia memasuki Sangha dan membujuknya untuk kembali menjadi umat biasa.
- o Makhadeva Sutta: cerita mengenai Sang Buddha dalam kehidupannya di masa lampau
sebagai Raja Makhadeva dan keturunannya sampai Raja Nimi.
- o Angulimala Sutta:
cerita mengenai Angulimala, penyamun yang kemudian menjadi Bhikkhu. o Piyajatika
Sutta: nasehat Sang Buddha kepada seorang laki-laki yang kehilangan anak dan
pertengkaran antara Raja Pasenadi dan permaisurinya mengenai hal itu.
- o Brahmayu
Sutta: mengenai 32 tanda pada tubuh Sang Buddha dan penerimaan Brahmana Brahmayu
sebagai pengikut Buddha.
- o Sela Sutta: Pertapa Keniya mengundang Sang Buddha dan
para Bhikkhu untuk jamuan makan. Brahmana Sela melihat 32 tanda dan menjadi
siswa. (Ini terdapat pula dalamSn III 7).
- o Vasettha Sutta: Khotbah yang
sebagian besar dalam bentuk syair mengenai brahmana sejati, baik karena
kelahiran maupun perbuatan (ini terdapat pula dalam Sn IIII 9).
- o Subha Sutta:
mengenai soal apakah seseorang dapat berbuat kebaikan lebih banyak sebagai
kepala keluarga atau dengan jalan meninggalkan keduniawian.
- o Isigili Sutta:
Sang Buddha menjelaskan nama bukit Isigili dan menyebutnya nama-nama Pacceka
Buddha yang dahulu tinggal di sana.
- o Maha Cattarisaka Sutta: penjelasan
mengenai Jalan Mulia Beruas Delapan dengan tambahan mengenai pengetahuan yang
benar dan emansipasi yang benar.
- o Anapanasati Sutta: perihal cara dan jasa
melatih meditasi masuk dan keluarnya napas.
- o Kayagatasati Sutta: perihal cara
dan jasa meditasi badan jasmani.
- o Cula Kammavibhanga Sutta: Sang Buddha
menerangkan sifat-sifat batin dan jasmani orang yang berbeda-beda dan
keberuntungan mereka menurut kamma.
- o Maha Kammavibhanga Sutta: seorang pertapa
secara keliru menuduh bahwa Sang Buddha mengatakan kamma tidak berguna dan Sang
Buddha menerangkan pandangannya sendiri.
- o Dhatuvibhanga Sutta: uraian mengenai
unsur-unsur. Khotbah ini dimasukkan dalam cerita Pukkusati, seorang siswa yang
belum pernah melihat Sang Buddha akan tetapi mengenalinya melalui ajarannya.
- o
Dakkhinavibhanga Sutta: Mahapajapati menghadiahkan satu pasang jubah kepada Sang
Buddha, yang menjelaskan berbagai jenis orang yang patut menerima pemberian dan
berbagai jenis orang yang memberi.
3. Samyutta Nikaya Merupakan buku ketiga dari
Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta (menurut "An analysis of the Pali
Canon" [wheel no.217/218/219/220] ada 2.889 sutta). Buku ini dibagi menjadi lima
vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta. Beberapa Samyutta di antaranya
sebagai berikut:
- o Mara: perbuatan-perbuatan bemusuhan dari Mara terhadap Sang
Buddha dan para siswaNya.
- o Bhikkhuni: bujukan yang tidak berhasil dari Mara
terhadap para bhikkuni dan perbedaan pendapatnya dengan mereka.
- o Brahma: Brahma
Sahampati memohon Sang Buddha untuk membabarkan Dhamma kepada dunia.
- o Sakka:
Sang Buddha menguraikan sifat-sifat Sakka, Raja para Dewa.
- o Nidana Samyutta:
penjelasan mengenai Paticcasamuppada (doktrin sebab musabab yang saling
bergantungan).
- o Abhisamaya: dorongan untuk membasmi kekotoran batin secara
tuntas.
- o Khandha Samyutta: kumpulan unsur, fisik dan mental yang membentuk
individu.
- o Kilesa: kekotoran batin muncul dari enam pusat indria dan kesadaran
indria.
- o Vedana: tiga jenis perasaan dan sikap yang benar terhadap perasaan
itu.
- o Citta: alat indria dan obyeknya pada hakekatnya tidak jahat, melainkan
kehendak-kehendak tidak baik yang timbul melalui kontak mereka.
- o Asankhata:
tidak terbentuk (Nibbana)
- o Magga Samyutta: jalan beruas delapan.
- o Bojjhanga:
tujuh faktor Penerangan Agung.
- o Satipatthana: empat dasar kesadaraan.
- o
Indriya: lima kemampuan
- o Sammappadhana: empat macam usaha benar.
- o Bala: lima
kekuatan.
- o Iddhipada: empat kekuatan batin.
- o Anuruddha: kekuatan-kekuatan gaib
yang dicapai oleh Anuruddha melalui kesadaran.
- o Jhana: empat jhana.
- o Anapana:
kesadaraan dari pernapasan.
- o Sotapatti: gambaran tentang seorang "penakluk
arus".
- o Sacca: empat kesunyataan mulia.
4. Anguttara Nikaya Merupakan buku
keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 9.577 sutta (menurut "An Analysis of
the Pali Canon & Buddhism" oleh Christmas Humphreys ada 2.308 sutta) dan terbagi
atas 11 nipata (bagian). Sutta-sutta di sini disusun menurut urutan bernomor
untuk memudahkan pengingatan.
- o Ekaka Nipata: (yang serba satu) misalnya pikiran
terpusat/tidak terpusat; usaha ketekunan Sang Buddha dan sebagainya.
- o Duka:
(yang serba dua), dua jenis kamma vipaka yaitu yang membuahkan hasil dalam
kehidupan sekarang maupun yang membawa kepada tumimbal lahir dan seterusnya; dua
jenis dana; dua golongan Bhikkhu dan sebagainya.
- o Tika: (yang serba tiga), tiga
pelanggaran melalui jasmani, ucapan dan pikiran; tiga perbuatan yang patut
dipuji yaitu kedermawanan, penglepasan, dan pemeliharaan orang tua; dan
sebagainya.
- o Catuka: (yang serba empat), empat jenis orang yaitu tidak
bijaksana dan tidak beriman; tidak bijaksana tapi beriman; bijaksana tapi tidak
beriman, bijaksana dan beriman; empat jenis kebahagiaan (empat Brahma Vihara,
empat sifat yang menjaga Bhikkhu dari kekeliruan); empat cara pemusatan diri dan
sebagainya.
- o Pancaka: (yang serba lima), lima ciri yang baik dari seorang
siswa; lima rintangan batin; lima obyek meditasi; lima sifat buruk; lima
perbuatan baik; dan sebagainya.
- o Chakka: kewajiban rangkap enam dari seorang
Bhikkhu.
- o Sattaka: tujuh jenis kekayaan; tujuh jenis kemelekatan.
- o Atthaka:
delapan sebab kesadaran; delapan sebab pemberian dana; delapan sebab gempa bumi.
- o Navata: sembilan perenungan; sembilan jenis manusia.
- o Dasaka: sepuluh
perenungan, sepuluh jenis penyucian batin.
- o Ekadasaka: sebelas jenis kebahagian
/ jalan menuju nibbana; sebelas sifat-sifat baik dan buruk dari seorang
pengembala dan Bhikkhu.
5. Khuddaka NikayaMerupakan buku kelima dari Sutta
Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima belas kitab, yaitu: o Khuddaka Patha:
bacaan dari bagian-bagian singkat; berisi empat teks dan lima sutta, yaitu:
- §
Saranattaya: pengulangan tiga kali berlindung pada Buddha,Dhamma dan Sangha.
- §
Dasasikkhapada: sepuluh sila yang harus dipatuhi oleh para samanera. Lima
pertama harus dipatuhi oleh umat biasa.
- § Dvattimsakara: daftar 32 unsur pokok
badan jasmani.
- § Kumarapanha: sepuluh macam tanya jawab untuk para samanera.
- §
Mangala Sutta: sebuah syair untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah kebahagian
tertinggi itu.
- § Ratana Sutta: sebuah syair mengenai Tiratana dalam hubungannya
untuk menerangkan kepada para makhluk halus.
- § Tirokudda Sutta: syair mengenai
pelimpahan jasa untuk arwah sanak keluarga yang sudah meninggal, yang terlahir
di alam yang menyedihkan.
- § Nidhikanda Sutta: syair tentang pengumpulan harta
sejati.
- § Metta Sutta: syair tentang cinta kasih universal.
- Dhammapada:
kata-kata dari Dhamma; kumpulan 423 bait yang dibagi dalam 26 vagga.
- Udana:
kumpulan dari 80 udana yang terbagi menjadi 8 vagga. Kitab ini memuat khotbah
Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.
- § Bodhi Vagga:
menggambarkan kejadian-kejadian tertentu setelah pencapaian Penerangan Sempurna
oleh Sang Buddha, termasuk khotbah termasyur kepada Bahiya yang menekankan
kehidupan pada saat sekarang.
- § Mucalinda: vagga ini dinamai menurut nama raja
Naga yang melindungi Sang Buddha dengan kepalanya.
- § Nanda: Sang Buddha
meyakinkan saudara tirinya, Nanda, tentang kehampaan hidup duniawi. Juga memuat
nasehat-nasehat kepada Sangha.
- § Meghiya : tanpa memeprdulikan nasehat Sang
Buddha, Meghiya mengasingkan diri ke sebuah hutan mangga untuk berlatih
meditasi, tetapi batinnya segera diserang pikiran-pikiran tidak baik. Setelah
kembali kepada Sang Buddha, ia diberitahukan bahwa lima faktor harus ditumbuhkan
oleh orang yang batinnya belum berkembang yaitu persahabatan yang baik,
moralitas, percakapan yang menguntungkan, keteguhan hati, dan pengetahuan. Juga
memuat cerita-cerita Sundari dan serangan terhadap Sariputta oleh seorang
Yakkha.
- § Sonathera: memuat kisah kunjungan Raja Pasenadi kepada Sang Buddha,
khotbah kepada Suppabuddha yang menderita penyakit kusta, penjelasan mengenai
delapan ciri Sasana dan tahun pertama dari kehidupan Sona sebagai bhikkhu.
- §
Jaccandha: memuat gambaran tentang Sang Buddha akan mencapai parinibbana,
percakapan Raja Pasenadi, dan kisah raja yang menyuruh orang-orang yang buta
sejak lahir (jaccandha) untuk masing-masing meraba dan menggambarkan seekor
gajah - untuk membantu menjelaskan realisasi sebagian dari kebenaran.
- § Cula:
memuat peristiwa-peristiwa kecil, terutama mengenai para Bhikkhu secara
perorangan.
- § Pataligama: memuat definisi termasyur dari Nibbãna sebagai yang
tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak dibuat, tidak dibentuk, santapan Sang
Buddha yang terakhir dan nasehatnya kepada Ananda mengenai Cunda, dan kunjungan
ke Pataligama tempat Sang Buddha mengungkapkan lima manfaat menempuh kehidupan
suci dan lima kerugian tidak melakukan hal itu.
- o Itivuttaka : kumpulan 112
sutta pendek dalam 4 nipata yang masing-masing disertai syair. Syair-syair ini
biasanya dimulai dengan kata "Iti Vuccati" (demikian dikatakan). Karya ini
terdiri atas ajaran-ajaran etika dari Sang Buddha
- o Sutta Nipata : kumpulan ini
terdiri atas lima vagga yang memuat 71 sutta. Sutta-sutta itu diantaranya sbb.:
- § Uraga Sutta: Bhikkhu yang menyingkirkan semua nafsu (buruk) manusia,
kemarahan, kebencian, kerakusan, dll.; dan terbebas dari khayalan dan ketakutan,
diperbandingkan dengan seekor ular yang berganti kulit.
- § Dhaniya Sutta:
ketenangan duniawi diperbandingkan dengan ketenangan Sang Buddha.
- §
Kasibharadvaja Sutta: pekerjaan yang berguna secara sosial atau duniawi
diperbandingkan dengan usaha-usaha Sang Buddha yang tidak kurang pentingnya
untuk mencapai Nibbãna.
- § Cunda Sutta: Sang Buddha menguraikan tentang 4 jenis
samana, seorang Buddha, seorang Arahat, seorang Bhikkhu yang sungguh-sungguh dan
bertanggung jawab, dan seorang Bhikkhu penipu.
- § Parabhava Sutta: sebab-sebab
kejatuhan seseorang dalam bidang moral dan batin diuraikan.
- § Vasala atau Aggika
Bharadvaja Sutta: untuk menyangkal tuduhan orang buangan, Sang Buddha
menjelaskan bahwa karena perbuatanlah, bukan garis keturunan, orang menjadi
orang buangan atau brahmana.
- § Metta Sutta: unsur-unsur pokok latihan cinta
kasih terhadap semua mahluk.
- § Hemawata Sutta: dua orang jakkha ragu-ragu
tentang sifat-sifat Buddha yang dinyatakan olehnya. Sang Buddha merumuskan
uraiannya dengan menjelaskan jalan pembebasan dari kematian.
- § Alavaka Sutta :
Sang Buddha menjawab pertanyaan-pertanyaan Yakkha Alavaka mengenai kebahagiaan,
pengertian, jalan ke Nibbana.
- § Vijaya Sutta: suatu analisa tubuh dalam
bagian-bagian pokoknya (yang tidak bersih) dan sebutan Bhikkhu yang mencapai
Nibbãna karena memahami sifat sejati badan jasmani.
- § Muni Sutta: konsepsi
idealitas seorang muni atau orang bijaksana yang menjalani kehidupan menyepi
yang bebas dari nafsu-nafsu.
- § Ratana Sutta: pujian kepada Tiratana (Buddha,
Dhamma, dan Sangha).
- § Mahamangala Sutta: 38 macam petunjuk-petunjuk etika dalam
menempuh kehidupan suci, mulai dengan petunjuk-petunjuk etika dasar dan mencapai
puncaknya pada penyelaman Nibbãna.
- § Suciloma Sutta: untuk menanggapi sikap
mengancam dari Yakkha Suciloma, Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu, kebencian,
keraguan, dan sebagainya bermula dengan badan jasmani, keinginan, dan konsep
aku.
- § Rahula Sutta: Sang Buddha menasehati putra-Nya yang telah ditahbiskan,
Rahula, untuk menghormati orang bijaksana, bergaul dan berhubungan sesuai dengan
prinsip-prinsip seorang pertapa.
- § Vangisa Sutta: Sang Buddha memberi kepastian
kepada Vangisa bahwa gurunya yang telah wafat, Nigrodhakappa, telah mencapai
Nibbãna.
- § Dhammika Sutta: Sang Buddha menjelaskan kepada Dhammika kewajiban
masing-masing dari seorang Bhikkhu dan umat biasa; umat biasa diharapkan untuk
mentaati Pancasila dan memperingati hari-hari Uposatha.
- § Pabbajja Sutta : Raja
Bimbisara dari Magadha menggoda Sang Buddha dengan kekayaan meterinya dan
menanyakan garis keturunannya. Sang Buddha menunjukkan kenyataan tentang
kelahiran di antara kaum Sakya dari Kosala dan Ia telah mengatasi khayal dari
kenikmatan-kenikmatan indria.
- § Padhana Sutta: uraian yang jelas sekali mengenai
godaan Mara menjelang pencapaian Penerangan Sempurna oleh Sang Buddha.
- §
Subhasita Sutta: bahasa para Bhikkhu hendaknya baik dalam penuturannya,
menyenangkan, tepat, dan benar.
- § Salla Sutta: kehidupan itu berlangsung singkat
dan semua kehidupan terancam oleh kematian, tetapi orang bijaksana yang memahami
sifat kehidupan tidak merasa takut.
- § Vasetta Sutta: dua orang pemuda,
Bharadvaja dan Vasettha, membahas masalah martabat brahmana karena kelahiran,
tetapi Vasettha mengatakan bahwa seseorang menjadi brahmana hanya karena
perbuatan. Sang Buddha akhirnya menegaskan pandangan Vasettha sebagai pendapat
yang benar.
- § Kokaliya Sutta: Kokaliya secara keliru menganggap
keinginan-keinginan jahat berasal dari Sariputta dan Moggallana dan akhirnya
menimbulkan penderitaan, karena kematian dan tumimbal lahir di salah satu alam
neraka. Sang Buddha kemudian menyebutkan satu persatu neraka-neraka yang berbeda
dan menggambarkan hukuman atas perbuatan mengumpat dan menfitnah.
- § Nalaka
Sutta: ramalan Pertapa Asita mengenai Buddha Gotama yang akan datang. Putra adik
perempuannya, Nalaka, memiliki kebijaksanaan tertinggi yang dibentangkan
kepadanya oleh Sang Buddha.
- § Dvayatanupassana Sutta: dukkha timbul dari
substansi, ketidaktahuan, panca khandha, keinginan, kemelekatan, usaha, makanan,
dan sebagainya.
- § Magandiya Sutta: kembali Sang Buddha menekankan kepada
Magandiya, seorang yang yakin akan kesucian melalui filsafat, bahwa kesucian
hanya dapat terjadi karena kedamaian batin.
- § Purabheda Sutta: kelakuan dan
ciri-ciri seorang bijaksana sejati yaitu kebebasan dari keserakahan, kemarahan,
keinginan, nafsu, dan kemelekatan dan senatiasa tenang, tenggang ras, dan
bermental seimbang.
- § Culaviyuha Sutta: uraian mengenai mazhab-mazhab filsafat
yang berbeda semuanya saling bertentangan tanpa menyadari bahwa kebenaran itu
satu.
- § Mahaviyuha Sutta: para ahli filsafat hanya memuji diri mereka sendiri
dan mengecam orang lain, tetapi seorang brahmana sejati tetap tidak tertarik
kepada pencapaian intelektual yang meragukan itu dan karenanya tenang dan damai.
- § Attadanda Sutta: orang bijaksana hendaknya tulus, tidak berbohong, sederhana,
bebas dari ketamakan dan fitnah, bersemangat dan tanpa keinginan untuk
memperoleh nama dan kemasyuran.
- o Vimanavatthu: cerita-cerita mengenai rumah di
surga yang merupakan 85 syair dalam tujuh vagga mengenai pahala dan tumimbal
lahir di alam-alam surga.
- o Petavatthu: terdiri atas 51 syair dalam 4 vagga
mengenai tumimbal lahir sebagai setan pengembara karena perbuatan-perbuatan
tercela.
- o Theragatha: syair tentang para Bhikkhu senior (thera), kumpulan
syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa
syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang
diucapkan para Thera atas pembebasan yang telah dicapai.
- o Therigatha: syair
tentang para Bhikkhuni senior (theri), buku yang serupa dengan Theragatha yang
merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang Buddha.
- o Jataka:
cerita kelahiran merupakan kumpulan yang memuat 547 kisah yang dianggap sebagai
cerita tentang kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Nidana Katha atau cerita
tentang garis silsilah adalah ulasan pengantar yang menguraikan kehidupan Sang
Buddha sampai pembukaan Vihãra Jetavana di Savatthi dan juga kehidupan-kehidupan
lampaunya di bawah Buddha-Buddha terdahulu.
- o Niddesa: terbagi dalam
Mahaniddesa, sebuah ulasan mengenai Atthakavagga dari Sutta Nipata, dan
Culaniddesa, sebuah ulasan mengenai Parayanavagga dan Khaggavisana Sutta yang
juga dari Sutta Nipata. Niddesa ini sendiri diulas dalam Saddhammapajjotika dari
Upasena dan di situ dihubungkan dengan Sariputta.
- o Patisambhidamagga: suatu
analisa Abhidhamma tentang konsep dan latihan yang sudah disebutkan dalam Vinaya
Pitaka dan Digha, Samyutta dan Anguttara Nikaya. Ini dibagi dalam 3 bagian; Maha
vagga, Yuganaddha-vagga dan Panna-vagga; tiap-tiap vagga memuat sepuluh topik
(katha).
- o Apadana: Kisah dalam syair tentang kehidupan lampau dari 550 orang
Bhikkhu dan 40 orang Bhikkhuni, yang semuanya diceritakan hidup pada masa Sang
Buddha.
- o Buddhavamsa: Riwayat Para Buddha yang di dalamnya Sang Buddha
menuturkan cerita tentang kebulatan hatinya untuk menjadi Buddha, dan
mengungkapkan riwayat 24 Buddha yang mendahuluinya.
- o Cariyapitaka: 35 kisah
dari Jataka dalam syair yang melukiskan 7 dari 10 Kesempurnaan (dasa parami)
yaitu kemurahan hati, moralitas, penglepasan, kebijaksanaan, daya usaha,
kesabaran, kebenaran, keteguhan hati, cinta kasih, dan keseimbangan batin.
ABHIDHAMMA PITAKA
Ketika Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma
yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang, seperti ilmu jiwa,
logika, etika, dan metafisika. Jadi merupakan penyajian khusus tentang Dhamma
seperti yang terdapat dalam Sutta Pitaka. Pada umumnya, isinya terdapat dalam
sutta-sutta akan tetapi yang diuraikan dalam bagian ini adalah bentuk yang
terperinci. Kitab ini terdiri atas 7 buah buku (pakara), yaitu:
1.
Dhammasangani: perincian Dhamma-Dhamma, yakni unsur-unsur atau proses-proses
batin.
2. Vibhanga: perbedaan atau penetapan. Pendalaman mengenai soal-soal
dalam Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi 8 bab
(vibhanga) dan masing-masing mempunyai 3 bagian.
3. Dhatukatha: penjelasan
mengenai unsur-unsur, yaitu mengenai unsur-unsur batin dan hubungannnya dengan
kategori lain. Buku ini terbagi menjadi 14 bagian.
4. Puggalapannatti:
penjelasan mengenai orang-orang, terutama menurut tahap-tahap pencapaian merka
sepanjang Jalan. Dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu
sampai sepuluh, seperti sistem dalam Kitab Anguttara Nikaya.
5. Kathavatthu:
pokok-pokok pembahasan, yaitu pembebasan dan bukti-bukti kekeliruan dari
berbagai sekte (aliran-aliran) tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi
dan metafisika. Terdiri atas 23 bab yang merupakan kumpulan
percakapan-percakapan (katha).
6. Yamaka: kitab pasangan, yang oleh Geiger
disebut logika terapan. Pokok masalahnya adalah psikologi dan uraiannya disusun
dalam pertanyaan-pertanyaan berpasangan. Kitab ini terbagi menjadi 10 bab yang
disebut Yamaka.
7. Patthana: kitab hubungan, yaitu analisa mengenai
hubungan-hubungan (sebab-sebab dan sebagainya) dari batin dan jasmani yang
berkenaan dengan 24 paccaya (kelompok sebab-sebab).
Gaya bahasa dalam Kitab
Abhidhamma bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya bahasa dalam
Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana, dan mudah
dimengerti oleh umum. Pada dewasa ini sudah banyak bagian dari Tipitaka yang
telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam Bahasa Indonesia misalnya Kitab
Dhammapada; beberapa Sutta dari bagian Sutta Pitaka lainnya; beberapa bagian
dari Vinaya Pitaka dan juga beberapa bagian (buku) dari Abhidhamma Pitaka.
referensi:
https://tanhadi.blogspot.com/